Adat Bersendi Syarak dalam Perkawinan Melayu: Integrasi Hukum Adat dan Hukum Islam pada Prosesi Pernikahan di Bengkalis
DOI:
https://doi.org/10.56633/jsie.v7i2.1660Keywords:
Adat bersendi syarak, Perkawinan Melayu, Hukum Adat, Hukum IslamAbstract
Pepatah adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah menjadi falsafah hidup orang Melayu, termasuk dalam perkawinan. Artikel ini bertujuan menjelaskan bagaimana hukum adat dan hukum Islam terintegrasi dalam prosesi pernikahan masyarakat Melayu di Bengkalis, Provinsi Riau. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif jenis kajian pustaka dengan pendekatan yuridis-sosiologis. Data sekunder dikumpulkan dari artikel jurnal, buku, skripsi, dan peraturan perundang-undangan, kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis dengan teori ‘urf, teori receptio a contrario, dan konsep pluralisme hukum. Hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi berlangsung dalam tiga pola. Pertama, pola penyerapan, yaitu tahapan adat seperti merisik dan meminang yang memuat prinsip khitbah, ta’āruf, dan musyawarah. Kedua, pola pembagian peran, yaitu hukum Islam menentukan keabsahan akad nikah, sedangkan adat mengatur tata cara, simbol, dan etika prosesi. Ketiga, pola seleksi, yaitu unsur adat yang bertentangan dengan syarak disaring atau dimaknai ulang. Hukum negara melengkapi ketiganya melalui pencatatan perkawinan. Tekanan modernisasi dan tuntutan kepraktisan menggeser sebagian prosesi, sehingga peran lembaga adat dan tokoh agama perlu diperkuat.
References
Abdullah. (2017). Falsafah adat Melayu: Adat bersendi syara’, syara’ bersendi Kitabullah. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Anggraeini, D., Kamaruddin, & Bunari. (2017). Pergeseran adat perkawinan Suku Akit di Desa Berancah Kecamatan Bantan Kabupaten Bengkalis. Jurnal Online Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau, 4(2), 1–13.
Ardiansyah, O., & Masrokhin. (2023). The tradition of tepuk tepung tawar in Malay weddings from the perspective of Islamic law: A case study at Tanjungpinang, Riau Islands. El-Usrah: Jurnal Hukum Keluarga, 6(2), 399–410. https://doi.org/10.22373/ujhk.v6i2.5391
Arrasyidi, R. U. (2018). Tinjauan hukum Islam terhadap upacara adat perkawinan Melayu di Pulau Bengkalis (Skripsi). UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta.
Batubara, T. (2022). Tradisi tepung tawar: Integrasi agama dan kebudayaan pada masyarakat Melayu di Sumatera Utara. Local History & Heritage, 2(1). https://doi.org/10.57251/lhh.v2i1.288
Budiawan, A. (2021). Tinjauan al-‘urf dalam prosesi perkawinan adat Melayu Riau. AnNahl, 8(2). https://doi.org/10.54576/annahl.v8i2.39
Effendy, T. (2006). Tunjuk ajar Melayu. Yogyakarta: Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu.
Fahmi, A. (2019). Konstruksi hukum adat pernikahan masyarakat Melayu Palembang berdasarkan syar’iat Islam. Medina-Te: Jurnal Studi Islam, 15(1), 17–38. https://doi.org/10.19109/medinate.v15i1.3772
Ferawati, Erdianto, & Martojo. (2023). Prosesi perkawinan menurut hukum adat
Melayu Indragiri Hilir Riau sebagai salah satu aset budaya Indonesia. Journal of
Education and Culture, 3(1), 1–7. https://doi.org/10.58707/jec.v3i1.297
Hadi, S. (2017). Hukum positif dan the living law, eksistensi dan keberlakuannya dalam masyarakat. DiH: Jurnal Ilmu Hukum, 13(26). https://doi.org/10.30996/dih.v0i0.1588
Hazairin. (1961). Hukum kekeluargaan nasional Indonesia. Jakarta: Tintamas.
Hendra, D. F. (2023). Peran Mak Andam dalam prosesi adat pernikahan Melayu di Kepulauan Riau. SEIKAT: Jurnal Ilmu Sosial, Politik dan Hukum, 2(3), 285–299. https://doi.org/10.55681/seikat.v2i3.562
Juhar, S. (2021). Tinjauan hukum Islam terhadap perkawinan adat Melayu Riau: Studi kasus di Desa Bencah Kelubi Kabupaten Kampar (Skripsi). UIN Sunan Gunung Djati, Bandung.
Lukito, R. (2013). Tradisi hukum Indonesia. Cianjur: IMR Press.
Maulana, Ghozali, A., & Sarifandi, S. (2024). Tradisi tepuk tepung tawar dalam budaya Melayu Riau: Sebuah analisis dalam perspektif hadis. Nusantara: Journal for
Southeast Asian Islamic Studies, 20(2), 115–127.
https://doi.org/10.24014/nusantara.v20i2.34867
Purnama, H. (2021). Hukum Islam, adat dan hukum negara dalam perkawinan masyarakat suku Melayu di Pekanbaru Riau: Keabsahan, etika, dan administrasi perkawinan. Al-Ahwal: Jurnal Hukum Keluarga Islam, 14(1).
https://doi.org/10.14421/ahwal.2021.14101
Rahayu, I. S., & Ningsih, L. S. (2023). Tepuk tepung tawar pengantin baru sebagai tradisi budaya Melayu dan media pendidikan. Multiverse: Open Multidisciplinary Journal, 2(1).
Rahmadhanty, R., Rahmawati, R. D., & Gustiwi, T. (2024). Tepuk tepung tawar: Tradisi kebudayaan masyarakat Melayu Riau. Tsaqifa Nusantara, 3(1), 15–26. https://doi.org/10.24014/tsaqifa.v3i1.23450
Rahman, dkk. (2026). The harmony of sharia and culture: A living hadith study on tepuk tepung tawar tradition in the Riau Malay community. Al-Tahrir: Jurnal Pemikiran Islam, 26(1). https://doi.org/10.21154/altahrir.v26i1.11972
Saiin, A., Umar, M. H., Badarussyamsi, Hajazi, M. Z., & Yusuf, M. (2023). The domination of Islamic law in customary matrimonial ceremonies: Islamic values within the Malay marriage tradition in Kepulauan Riau. Al-Ahwal: Jurnal Hukum Keluarga
Islam, 16(2), 320–341. https://doi.org/10.14421/ahwal.2023.16207
Selvia, R., Yuliantoro, & Fiqri, A. (2021). Tepuk tepung tawar dalam adat pernikahan Melayu. Innovative: Journal of Social Science Research, 1(2), 428–431. https://doi.org/10.31004/innovative.v1i2.3039
Siregar, F. A. (2019). Antara hukum Islam dan adat. El-Qanuniy: Jurnal Ilmu Kesyariahan dan Pranata Sosial, 5(2), 1–17. https://doi.org/10.24952/el-qonuniy.v5i2.2073
Suryawati, N., & Syaputri, M. D. (2021). Harmonization of the application of customary law and positive law in village communities of Malang Regency. International Journal of Applied Business and International Management, 6(2), 1–12.
https://doi.org/10.32535/ijabim.v6i2.993
Syarifuddin, A. (2014). Ushul fiqih. Jakarta: Prenada Media.
Tinambunan, D. R., Siahaan, R. Y., Nisa, C., Manullang, J. M., Sembiring, T., & Siregar, H. L. (2024). Tradisi tepung tawar sebagai cerminan nilai keagamaan dan sosial pada masyarakat Melayu di Batubara. Jurnal Pendidikan Tambusai, 8(3), 41444– 41451.
Utomo, L. (2016). Hukum adat. Jakarta: Rajawali Pers.
Wandi, S. (2018). Eksistensi ‘urf dan adat kebiasaan sebagai dalil fiqh. Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam, 2(1).
Yulianto, J. E., Hodgetts, D., King, P., & Liu, J. H. (2022). Navigating tensions in interethnic marriages in Indonesia: Cultural, relational, spatial and material considerations. International Journal of Intercultural Relations, 86, 227–239. https://doi.org/10.1016/j.ijintrel.2021.12.008
Zainal. (2019). Adat istiadat Melayu Riau dan makna simboliknya. Pekanbaru: UNRI Press
